Sabtu, 03 Desember 2011

Cerpen " Pengorbanan Siti "

praaaaaaaaannnngggg...

Alan meleparkan piring yang berisi makanan yang diberikan Siti padanya.pecahan piring dan makanan berserakan di lantai.

Siti mundur karena kaget.

"Apa pedulimu denganku ?.Pergi!!!!" bentak Alan kepada Siti yang membuatnya semakin kaget.

"Lan,aku tau ini berat,aku ngerti ba..."

"Tau apa kamu dengan perasaan ku ."Alan memotong pembicaraan Siti."Ga ada satu pun yang ngerti gimana perasaanku sekarang.Ga ada yang peduli denganku bahkan orang tuaku sendiri,dan kamu ga perlu repot-repot memperhatikan ku."Alan kalap

Siti benar-benar mundur kali ini,belum pernah ia melihat Alan seperti ini.Dia tau Alan sedang banyak masalah,tapi dia tak menyangka Alan bisa sekalap ini.gak ada gunanya memaksakan diri pikirnya,Alan mungkin butuh waktu sendiri

Setelah Siti pergi ,Alan semakin kalap.Dia melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya.Alan terduduk diantara barang-barang yang berserakan.Dia muak dengan semuanya.Kedua orang tuanya hanya sibuk dengan urusan meraka sendiri,jarang ada di rumah,dan kalau pun mereka pulang, mereka cuma bertengkar dan saling menyalahkan.Mereka sama sekali tidak peduli dengan Alan,segala cara sudah dilakkan Alan agar orangtuanya mau memperhatikan Alan,tapi tetap gak ada hasilnya.

Bahkan Alan hampir di keluarkan dari sekolah karena memukuli temannya hingga masuk rumah sakit,orang tua Alan malah bertengkar dan melempar kesalahan.Alan merasa benar-benar putus asa.

Dan terakhir yang membuat Alan tertekan adalah saat dia tau bahwa dia bukan anak kandung orang tuanya,dia hanya anak angkat,Dan selama ini orang tuanya merahasiakan kenyataan itu.Alan gak sengaja mendengarnya saat kedua orang tuanya sedang bertengkar.Alan tak bisa terima keadaan ini,untuk apa harta melimpah,buat apa kehidupan yang mewah,kalau kenyataannya dia gak bahagia.

Selama ini, cuma Siti yang selalu menemaninya,Siti adalah teman dari kecil,sama Siti dia menumpahkan kekesalannya,tempat dia berbagi suka dan duka.Tapi sekarang Alan seperti kehilangan kepercayaaan,dia ga percaya siapa pun lagi,baginya semua hanya pura-pura.dia benci semuanya.

Siti datang besoknya,dia berharap Alan sudah bisa tenang lagi.tapi dia salah,Alan masih bersikap sama

"Mau apa lagi kamu kesini ? Apa kamu ga ngerti juga.Udahlah di dunia ini ga ada yang pedui sama aku, semua hanya pura-pura.pergi sana! Dasar cewe ga tau diri.ku ga mau liat muka kamu lagi!"

"ALAN !!!" Siti benar-benar ga bisa percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Ya cewe ga tau diri,PUAS!!?!!?!,sekarang pergi dari sini."
Siti bagai disambar petir.Dia ga nyangka Alan akan mengatakan seperti itu.Siti lari meninggalkan Alan dia tak bisa menahan air mata yang keluar.

Dalam keadaan kalut Alan memacu motornya dengan kecepatan tinggi,dia gak punya tujuan,hanya dia ingin pergi.Walaupun ga tau kemana.

Sebuah benturan keras menghantam Alan,Tubuh Alan pun terlempar dari motornya,darah mengalir dari kepalanya.Alan tidak tau lagi apa yang terjadi

Praanngggg.....

Gelas yang dipegang Siti jatuh dari tangannya.

"ALAN."katanya tanpa sadar.

Alan terbaring di tempat tidurnya,kepalanya di balut dengan perban.Siti duduk di sebelah tempat tidur Alan..Sudah 3 hari Alan ga sadar,dan selama itu Siti menemani Alan,dia gak pernah ninggalin Alan walau hanya sebentar ,keadaan Alan kini mulai membaik setelah sempat kritis karena kehilangan banyak darah.

"Lan,aku tau masalah kamu banyak,tapi kamu salah kalau kamu pikir ga ada yang peduli sama kamu.Banyak yang sayang sama kamu,Lan.Dan kalaupun itu bener kan kamu masih punya aku yang selalu peduli dan sayang sama kamu,aku gak akan ninggalin kamu.Tapi kalau kamu ga mau ketemu aku lagi gapapa kamu ga usah khawatir,kamu ga akan liat aku lagi, cepet sembuh ya Lan," Siti mengecup kening Alan dan menghapus air matanya sendiri.

Siti keluar dari ruang serba putih itu, setelah pamitan dengan kedua orang tua Alan yang duduk di ruang tunggu,Siti pergi,bukan cuma dari rumah sakit itu mungkin juga dari kehidupan Alan.dia memutuskan untuk pindah ke Jerman dan bekerja disana.dan mungkin tidak akan kembali lagi.

Alan mulai membuka matanya,pertama pandangannya masih kabur,kemudian mulai jelas yang dilihatnya pertama kali adalah kedua orang tuanya yang tersenyum memandangnya.

"Alan kamu sudah sadar sayang?"jelas sekali nada lega yang di ucap kan mamah Alan.

"mama.....papa..."ucap Alan lemah

"maafin mama Alan , selama ini mama dan papa terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan kamu dan jika kami dirumah kami hanya bertengkar,maafin mama sayang " ucap mama Alan air matanya mengalir di pipinya.

"iya Alan maafin papa juga walaupun kamu bukan anak kandung kami tapi kami sangat menyayangi kamu seperti anak kandung sendiri.Siti sudah cerita semuanya kepada kami selama kamu koma yang menjaga kamu adalah Siti bahkan dia pun mendonorkan darah nya untuk kamu."

"Siti mana ?"kata Alan yang baru sadar bahwa tidak ada Siti di sampingnya.
mama dan papa Alan terdiam tidak menjawab pertanyaan Alan

"ma...pa... Siti mana ?"

"sudah pergi " jawab papa Alan

"pergi?pergi kemana pa?" Tanya Alan kepada papa Alan.

"kami gak tau Alan,Siti hanya bilang dia mau pergi dan mungkin tidak akan kembali" jelas papa Alan.

" SITI ...." Alan tidak bisa ngomong apa-apa lagi,dia ingat wktu dia mengatai dan mengusir Siti , dia tak menyangka kata-kata yang di keluarkan saat di emosi bisa membuat dia kehilangan teman yang menyayanginya dan teman yang rela berkorban demi dirinya.

Siti , maafin aku ya . Ucapnya dalam hati.

1 komentar:

  1. Cerita nya bagus.. i love it..

    oiya, mau ngingetin nih jangan lupa ya pasang link UG di blog kamu.. :)

    BalasHapus