Senin, 24 Oktober 2011

Contoh Resensi Buku

Judul : Gus Mus, Satu Rumah Seribu Pintu
Penulis : Abdul Munir Mulkan dkk (31 penulis)
Penerbit : Kerja sama Fak Adab UIN Sunan Kalijaga dan LKiS Yogya
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : xxiv + 295 halaman

SAAT terjadi kekerasan yang dialamatkan pada jamaah Ahmadiyah tempo dulu, KH Mustofa Bisri menjadi tokoh utama yang menentang. Menurut Gus Mus-sapaan akrabnya- jamaah Ahmadiyah diibaratkan orang yang hendak ke Surabaya tapi lewat Jakarta dulu. ‘Orang bingung’ semacam ini menurut Gus Mus harus dinasihati dan diberi pengertian, bukan malah dihadiahi pentungan.
Itulah gambaran seorang Gus Mus. Betapa nilai humanisme Kiai Rembang ini telah menyungsum hingga tulang. Bahkan lebih dari itu, telah menjadi ruh kehiupan. Dan buku yang diterbitkan sebagai hadiah bagi Gus Mus dalam rangka penganugrahan gelar Doktor Honoris Causa (DR HC) dari Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga beberapa waktu lalu.
Boleh dibilang buku ini merupakan buku ‘keroyokan’. Tercatat 31 penulis menyumbangkan tulisan lengkap dengan kesan yang mereka yang lengkap dari sosok pengasuh PP Raudlatut Thalibin. Misal saja Amin Abdullah menuliskan bahwa dalam menyikapi masalah social keagamaan, Gus Mus dapat berpikir literal, out off the box, di luar kelaziman (hal 199). Lain lagi dengan Bakdi Sumanto yang menyebkut dengan tegas Gus Mus adalah nurani bangsa yang hilang (171). Bahkan Abdul Munir Mulkhan sempat dibuat malu sendiri oleh sikap kebersahajaan yang pernah ditunjukan Gus Mus (hal 168).
Singkat kata, buku ini bercerita dan menyoroti Gus Mus dari banyak aspek kehidupan. Seperti dalam bingkai kajian sastra, puisi, prosa, keluarga, pemikiran kaum muda, kajian social budaya dan dalam bingkai persahabatan. Sehingga membaca buku ini terasa bagi kita menyelami kehidupan seorang tokoh yang ditakdirkan sebagai sosok kiai yang juga penyair, seniman, budayawan, esais, pelukis dan banyak lagi sebutan lainnya. Ibarat sebuah rumah, Gus Mus memiliki seribu pintu yang dapat dimasuki setiap tamu.
Uniknya, budayaan kondang sekaliber Emha Ainun Nadjib pun merasa ‘cemburu berat’ pada Gus Mus. Konon di usia sepuh, tulis Cak Nun, Gus Mus makin ganteng, wajah dan kulitnya berubah tampak lebih putih. Di saat orang dari Sabang sampai Merauke diam-diam merasa frustasi, Gus Mus malah tampil sumringah dengan seluruh wajah terlihat tersenyum. Maka tak heran, ‘makhluk’ bernama Doktor Honoris Causa kesengsem dan melamar untuk menjadi sandangannya (hal 251).

RESENSI

Resensi buku diartikan sebagai timbangan, tinjauan, telaah, dan penilaian, yang di dalam bahasa Inggris disebut review (dalam Webster College Dictionary diartikan sebagai: a critical evaluation of a book). Sedangkan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, resensi adalah pertimbangan, pembicaraan, atau ulasan sebuah buku.
Pada hakikatnya resensi buku hanya harus memberi penjelasan apa adanya terhadap suatu buku; baik kekurangan maupun kelebihannya. Di sana tidak ada embel-embel yang berbau iklan atau pesan sponsor. Karena itulah resensi buku yang baik hanya mengungkap apa yang dapat ditangkap oleh peresensi secara kritis terhadap keberadaan buku tersebut.
Nah, bagaimana seorang penulis resensi dapat menjelaskan kekurangan dan kelebihan dari sebuah buku? Di sinilah letak perbedaan membaca dengan membaca! Membaca-nya seorang penikmat tentu berbeda dengan membaca-nya seorang pengamat. Seorang peresensi buku duduk pada posisi sebagai seorang pengamat. Seseorang akan mampu mengamati sebuah buku dengan baik apabila dirinya kaya akan pengetahuan, wawasan, daya kritis, serta memiliki kreativitas dan kebebasan berpikir. Kemudian untuk dapat menyatakan kekurangan dan kelebihan atau memberi penilaian terhadap sebuah buku yang selesai dibacanya, seorang peresensi tentu sebelumnya telah memiliki bekal atau modal kekayaan berupa pengetahuan dan wawasan yang diperolehnya dari banyak membaca dan melakukan pengamatan. Sebab untuk dapat melakukan timbangan (resensi) terhadap sebuah buku tentu saja diperlukan pembanding (buku-buku) serupa atau sejenis dengan yang sedang diresensi. Itulah sebabnya, seorang penulis resensi yang piawai adalah seorang pembaca yang baik.
Ketika berhadapan dengan sebuah buku yang selesai dibaca, daya analisanya langsung mencari perbandingan kepada buku-buku serupa (sejenis) yang pernah dibaca sebelumnya. Di samping buku-buku sejenis sebagai pembanding, seorang peresensi yang baik dituntut memiliki pengetahuan yang luas kepada bacaan dari berbagai jenis disiplin ilmu yang lain. Oleh sebab itu, mutlak, seorang penulis resensi buku yang baik haruslah seorang pembaca yang baik pula.

RESENSI

Sabtu, 01 Oktober 2011

Penalaran Deduktif dan Induktif

Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan berfikir penalaran memiliki cirri-ciri tertentu. Ciri pertama adalah proses berpikir logis, dimana berpikir logis di artikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu atau dengan kata lain menurut logika tertentu. Ciri yang kedua adalah sifat analitik dari proses berpikirnya. Sifat analitik ini merupakan konsekuensi dari adanya suatu pola berpikir tertentu. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Penalaran di bedakan menjadi dua macam, yaitu penalaran deduktif dan penalaran induktif. Penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-esimpulan yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.
1.Penalaran Deduktif
Penalaran deuktif merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenaranya telah di ketahui atau di yakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat khusus. Metode ini diawali dari pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrument dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memilki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya di lakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupaka kata kunci untuk memahami suatu gejala.
 Ciri-ciri Paragraf Deduktif
Ide pokok atau kalimat utamanya terletak di awal paragraph dan selanjutnya di ikuti oleh kalimat-kalimat penjelas untuk mendukung kalimat utama.
2.Penalaran Induktif
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran Deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memiliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat di tarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendeskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
 
 Ciri – cirri Paragraf Induktif
• Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus.
• Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus.
• Kesimpulan terdapat di akhir paragraph.
• Menemukan kalimat utama, Gagasan Utama, Kalimat Penjelas.
• Kalimat utama paragraph induktif terletak di akhir paragraph.
• Gagasan Utama terdapat pada kalimat utama.
• Kalimat penjelas terletak sebelum kalimat utama, yakni yang mengungkapkan peristiwa-peristiwa khusus.
• Kalimat penjelas merupakan kalimat yang mendukung gagasan utama.